Dalam perayaan hari jadi Persatuan Karyawan Film dan terlevisi yang ke 54 Tahun 2018 ini ada banyak yang menarik, khususnya perayaannya dilaksanakan bersamaan dengan HUT PARFI yang ke 62 dan sekaligus memperingati Hari Film Nasional yang ke 69.

Memang ketiga hari jadi ini tidak bisa terpisahkan. Hari Film Nasional tidak bisa dipisahkan dari jasa-jasa kedua organisasi perfilman ini. Pada tanggal 30 Maret 1950, kebangkitan film nasional ditandai dengan Sutradara Indonesia, Usmar Ismail yang berhasil memproduksi sebuah film berjudul Darah dan Doa atau The Long March of Siliwangi melalui perusahan film miliknya sendiri, Perfini.

Tanggal itu kemudian dipilih oleh Dewan Film Nasional sebagai HFN. Film karya Usmar Ismail tersebut dijadikan penanda bangkitnya industri perfilman Indonesia karena menceritakan perjalanan panjang (long march) prajurit Indonesia dan keluarga mereka dari Jogjakarta ke pangkalan utama mereka di Jawa Barat. Usmar Ismail sebagai bapak Perfilman Nasional tidak terpisahkan dengan lahirnya organisasi Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia.

Dalam perayaan ini ketua umum KFT yang sekaligus ketua umum PARFI Febryan Adhitya menyampaikan apresiasinya kepada saudara Ismail Fahmi Lubis dan Dewi Alibasah yang telah memproduksi Tarling Is Darling, film yang diproduksi secara mandiri dan telah diapresiasi di beberapa baik dalam negeri maupun di luar negeri, FFI 2017, Amsterdam Film Festival dan Taiwan International Dokumentery Festival, Juga kepada Teman2 KFT yang telah memproduksi Film Tengkorak secara mandiri. Dan tidak lupa saya memberikan apresiasi kami setinggi-tingginya kepada para Pendahulu, senior,Tokoh dan Insan perfilman Indonesia, karena Andalah KFT dan PARFI ada, karena Andalah Perfilman Indonesia diperhitungkan dunia, semoga kami dapat melanjutkan kesuksesan para pendahulu KFT dan PARFI menjadi sebuah lembaga yang berkualitas dan berdedikasi tinggi secara professional dibidang perfilman.

Dan dalam konfrensi pers Ketua Bidang Organisasi KFT yang sekaligus ketua bidang Organisasi dan jaringan Badan Perfilman Indonesia periode 2017 - 2020 menyampaikan bahwa KFT akan fokus pada penataan organisasi dengan menghidupkan kembali divisi-divisi profesi yang dulu dikenal dengan nama kelompok profesi KFT yang memang sdh tiga priode ditiadakan, saat ini diharapkan dengan dihidupkannya kembali divisi-divisi ini maka program program peningkatan kompetensi SDM tentu saja menjadi prioritas. Salah satunya organisasi membentuk LSP Kreator Film dan Televisi Indonesia. Dan adapun Pimpinan Organisasi diharapkan lebih fokus pada persoalan hubungan kerja antara seluruh anggotan dengan pihak perusahaan yang akan menggunakan jasanya. Persoalan Kontrak kerja, jaminan sosial, kesehatan dan kontrak kerja menjadi prioritas Pimpinan Organisasi dengan langkah mendorong terbentuknya Forum Tripartik Perfilman melalui Badan Perfilman Indonesia.

"Inilah tantangan KFT saat ini" lanjut Gunawan Paggaru menutup acara konfrensi pers yang diadakan di PPHUI Kuningan.

Add comment


Security code
Refresh