SEMINAR NASIONAL

SINEMA INDONESIA BUNG!

FILM NASIONAL SEBAGAI UNSUR KETAHANAN BUDAYA BANGSA

“PERAN STRATEGIS FILM NASIONAL DALAM MEMPERTAHANKAN BUDAYA BANGSA”

Pada pembukaan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, tertuang; menimbang,: a. bahwa film sebagai karya seni budaya memiliki peran strategis dalam peningkatan ketahanan budaya bangsa dan kesejahteraan masyarakat lahir batin untuk memperkuat ketahanan nasional dan karena itu negara bertanggung jawab memajukan perfilman.

Maka sebagaimana fungsinya sebagai penguat Ketahanan Nasional, Film Nasional diharapkan mampu berperan sebagai media Daya tangkal bagi segala bentuk ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan terhadap identitas, integritas, eksistensi bangsa, dan negara Indonesia dalam konteks ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Film Nasional sangat efektif bagi fungsi pengembangan potensi kekuatan bangsa dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan demi terwujudnya kesejahteraan rakyat. Film Nasional juga diharapkan dapat menyatukan pola pikir, pola tindak, dan cara kerja masyarakat Indonesia yang majemuk menjadi lebih terarah dalam upaya mencapai tujuan nasional mewujudkan masyarakat adil, makmur dan bermartabat berazaskan Pancasila.

Bagi Ketahanan Ekonomi sendiri, sebagaimana UUD 1945 pasal 33 Film Nasional diharapkan mampu menciptakan kemandirian ekonomi Nasional dengan daya saing yang tinggi. Daya saing insan-insan Perfilman tanah air mendapat ujian berat menghadapi hantaman pasar bebas yang sarat akan kompetisi global. Pemerintah diharapkan mampu menjadi fasilitator bagi kemandirian insan perfilman tanah air. Lembaga pendidikan, komunitas, dan organisasi-organisasi profesi wajib pula meningkatkan kompetensi profesi anggotanya demi menciptakan, meningkatkan kualitas, memperluas, mempertahankan lahan kerja bagi setiap anggotanya, agar pada saat pasar bebas berlangsung mampu bertahan, bahkan bersaing dengan bakal keahlian profesi yang dimilikinya. Sertifikasi Profesi menjadi hal mutlak bagi solusi persaingan global tersebut.

Disamping itu cita-cita Film Nasional dalam upaya mengokohkan kearifan lokal budaya asli sangat berpengaruh kepada penguatan jati diri bangsa. Dimana konten kearifan lokal sebagai produk kekayaan Intelektual bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya tersebut diharapkan akan menjadi faktor strategis pembentuk karakter bangsa yang cinta akan tanah air, sangat efisien memperkuat persatuan dan kesatuan elemen bangsa, mampu melestarikan serta mengembangkan budaya bangsa menjadi bagian dari kehidupan bangsa, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu pula menjadikan masyarakat Indonesia berkualitas serta memiliki keahlian yang diandalkan dalam menangkal penetrasi budaya asing. Ketahanan sosial budaya secara ekplisit adalah benteng bagi sosial budaya masyarakat asli Indonesia yang menjadikan kemandirian adalah karakter unggul kualitas bangsa Indonesia.

Usmar Ismail menjadi ikon perjuangan Film Nasional dalam menempatkan dirinya sebagai tuan di rumahnya sendiri. Jejak rekam “Darah dan Doa” menjadi sejarah bagi film Indonesia dimana Usmar Ismail bersama Perfini memproduseri, Usmar Ismail menyutradarai sendiri film Indonesia yang diperankan dan diproduksi seluruhnya oleh sineas berkebangsaan Indonesia dan diproduksi setelah perang kemerdekaan Indonesia. Hal tersebut menobatkan Usmar Ismail menjadi ikon perjuangan berdirinya Perfilman Indonesia. Film-film impor dari tahun ke tahun semakin deras menghiasi layar lebar tanah air dan perlahan mendegradasi jati diri bangsa. KFT Indonesia sebagai organisasi profesi Perfilman Indonesia mengusung Usmar Ismail sebagai Pahlawan Indonesia berlandaskan semangat untuk bertekad mewujudkan Film Nasional mampu menjadi tuan di rumahnya sendiri, dengan tekad meningkatkan keahlian profesi para sineas Perfilman di tanah air.

Add comment


Security code
Refresh